Blaradja: Jejak Pasar Balaraja dalam Arsip Hindia Belanda Tahun 1868

Avatar photo

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

District Balaradja (Peta 1930)

District Balaradja (Peta 1930)

BALARAJA – Sebelum berkembang menjadi kawasan industri dan permukiman seperti saat ini, Balaraja telah lebih dahulu dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting di wilayah Tangerang pada masa Hindia Belanda. Bukti sejarah tersebut ditemukan dalam sejumlah dokumen kolonial abad ke-19 yang mencatat keberadaan Pasar Balaraja sebagai bagian dari jaringan pasar resmi pemerintah kolonial.

Dalam buku De Politierol karya M.C. Piepers yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1868, nama Balaraja tercatat dengan ejaan lama Belanda, yaitu “Blaradja”. Nama tersebut masuk dalam daftar pasar-pasar yang diatur secara resmi oleh pemerintah Hindia Belanda bersama sejumlah pasar lain di wilayah sekitar Batavia dan Priangan.

Salah satu kutipan dalam dokumen menyebutkan:

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Toepasselijk op de bazars te Tjikarang, Tjiledoek, Serpong, Pebaijoran, Kramat, Tjilattan, Parapattan, Blaradja, Tjikoppo, Tjiawi, Tjidjeroek, Tjiseroa, Toegoe en Parong Pandjang.”

Apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, ketentuan tersebut berlaku bagi pasar-pasar di Cikarang, Ciledug, Serpong, Kebayoran, Kramat, Cilatan, Parapatan, Balaraja, Cikopo, Ciawi, Cijeruk, Cisarua, Tugu, dan Parung Panjang.

Baca Juga :  Wabup Intan Hadiri Haflah Akhirussanah dan Wisuda Tahfidz Pondok Modern Daarul Hikmah Sukadiri
Buku De Politierol karya M.C. Piepers yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1868, nama Balaraja tercatat dengan ejaan lama Belanda, yaitu “Blaradja”

Penyebutan Balaraja dalam dokumen hukum kolonial menunjukkan bahwa wilayah ini telah memiliki aktivitas perdagangan yang cukup ramai dan dianggap penting oleh pemerintah saat itu. Bahkan dalam salah satu ketentuan disebutkan bahwa pasar di Balaraja diselenggarakan setiap hari Minggu, menandakan adanya jadwal pasar tetap yang menjadi pusat pertemuan pedagang dan masyarakat dari berbagai daerah.

Pada abad ke-19, pasar memiliki peranan yang jauh lebih besar dibanding sekadar tempat jual beli. Pasar menjadi pusat pergerakan ekonomi, distribusi hasil pertanian, pertemuan sosial, hingga sarana pengumpulan informasi antarwilayah. Kehadiran Pasar Balaraja menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan pedalaman Tangerang dengan jalur perdagangan menuju Batavia dan Banten.

Dokumen De Politierol juga memuat berbagai aturan yang berlaku di pasar-pasar resmi, seperti larangan perjudian, penggunaan candu, serta pungutan liar terhadap pedagang. Regulasi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kolonial memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas pasar karena perannya yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Moch. Maesyal Rasyid Minta Santri Jangan Putus Sekolah, Orang Tua Diminta Dukung Pendidikan Anak

Keberadaan Pasar Balaraja pada pertengahan abad ke-19 memperlihatkan bahwa identitas Balaraja pada masa kolonial lebih dikenal sebagai kota pasar daripada kawasan industri. Aktivitas perdagangan menjadi penggerak utama pertumbuhan wilayah, mendorong munculnya permukiman, jalur transportasi, serta berbagai kegiatan ekonomi pendukung lainnya.

Sejarawan lokal menilai bahwa penyebutan “Blaradja” dalam dokumen resmi Hindia Belanda merupakan salah satu bukti tertulis tertua mengenai eksistensi Balaraja. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa lebih dari 150 tahun lalu, Balaraja telah menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Tangerang bagian barat.

Kini, meskipun wajah Balaraja telah berubah menjadi salah satu kawasan industri terbesar di Kabupaten Tangerang, jejak sejarahnya sebagai kota pasar masih dapat ditelusuri melalui keberadaan Pasar Balaraja yang tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat hingga saat ini. Dengan demikian, sejarah Balaraja sesungguhnya berakar dari tradisi perdagangan yang telah tumbuh sejak masa kolonial dan menjadi fondasi perkembangan wilayah tersebut hingga era modern.

Penulis : YD

Follow WhatsApp Channel vibez.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sarana Belajar SDN Cempaka 3 Tangerang Butuh Perbaikan, Pihak Sekolah Harapkan Bantuan Dinas
Targetkan Juara Umum, Kabupaten Tangerang Siap Berlaga di Porprov VII Banten
Bupati Tangerang Lantik 10 Jurusita Pajak Bapenda, Tekankan Sikap Humanis dan Profesional
Moch. Maesyal Rasyid Minta Santri Jangan Putus Sekolah, Orang Tua Diminta Dukung Pendidikan Anak
Wabup Intan Hadiri Haflah Akhirussanah dan Wisuda Tahfidz Pondok Modern Daarul Hikmah Sukadiri
Penertiban Eks TPPS Pasar Cisoka Ditunda Pasca-Protes Pedagang dan Pemilik Lahan
Wabup Intan Hadiri Tasyakuran Purnawiyata dan Pentas Seni SD Negeri Peusar
Bupati Maesyal Rasyid Ajak Masyarakat Tangerang Lestarikan Budaya di Grebeg Suro

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:37 WIB

Sarana Belajar SDN Cempaka 3 Tangerang Butuh Perbaikan, Pihak Sekolah Harapkan Bantuan Dinas

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:44 WIB

Targetkan Juara Umum, Kabupaten Tangerang Siap Berlaga di Porprov VII Banten

Senin, 22 Juni 2026 - 12:20 WIB

Bupati Tangerang Lantik 10 Jurusita Pajak Bapenda, Tekankan Sikap Humanis dan Profesional

Minggu, 21 Juni 2026 - 15:40 WIB

Moch. Maesyal Rasyid Minta Santri Jangan Putus Sekolah, Orang Tua Diminta Dukung Pendidikan Anak

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:12 WIB

Wabup Intan Hadiri Haflah Akhirussanah dan Wisuda Tahfidz Pondok Modern Daarul Hikmah Sukadiri

Berita Terbaru