VIBEZ TECH – Pemerintah menegaskan pengembangan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada investasi dan penggunaan teknologi semata. Kehadiran teknologi AI juga harus mampu mendorong transfer teknologi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta memperkuat ekosistem inovasi nasional.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria saat menghadiri acara AI Center of Excellence: Accelerate AI for Good di Jakarta Pusat, Selasa (9/6).
Menurut Nezar, kolaborasi antara Indonesia dan perusahaan teknologi global menjadi salah satu kunci untuk mempercepat transformasi digital nasional sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kolaborasi ini sangat penting, pertama untuk transfer teknologi, kedua untuk peningkatan kapasitas SDM, dan ketiga untuk kemajuan yang berkelanjutan,” kata Nezar.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dan bercita-cita menjadi negara maju pada 2045. Untuk mencapai target tersebut, pemanfaatan teknologi digital dan AI dinilai menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru yang perlu dikembangkan secara serius.
Nezar menilai Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk bersaing dalam perkembangan ekonomi berbasis AI. Selain didukung bonus demografi, Indonesia juga memiliki ekonomi digital yang terus tumbuh dan pasar teknologi yang besar.
“Indonesia bukan hanya pasar. Kita juga memiliki potensi menjadi pusat inovasi, pusat talenta, dan tujuan investasi strategis di bidang teknologi,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Nezar juga menekankan bahwa pengembangan AI harus tetap berpusat pada manusia. Teknologi tersebut, kata dia, harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas dan mendukung pembangunan yang inklusif.
Karena itu, pemerintah bersama mitra industri mendorong pembentukan AI Center of Excellence sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang kecerdasan artifisial.
Pusat pengembangan tersebut diharapkan dapat mempercepat penguasaan teknologi AI, meningkatkan daya saing nasional, sekaligus memperkuat kedaulatan digital Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“AI harus menjadi pendorong kemajuan, menjadi mitra pembangunan, dan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Itulah esensi AI untuk kebaikan,” tutur Nezar.
Lebih lanjut, ia menilai pengembangan AI tidak bisa dilakukan secara sendiri. Karena itu, kemitraan dengan perusahaan teknologi global seperti NVIDIA dan Nokia menjadi langkah strategis untuk mempertemukan keahlian internasional dengan potensi talenta Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi tersebut memungkinkan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi baru yang memberikan nilai tambah ekonomi.
“Saat keahlian global bertemu dengan kecerdasan Indonesia, kita tidak hanya mengadopsi teknologi. Kita mengembangkannya, berinovasi di atasnya, dan menciptakan sumber nilai ekonomi baru,” ucapnya.
Nezar pun mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga komunitas teknologi untuk bersama-sama membangun ekosistem AI yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Ia berharap pemanfaatan AI di Indonesia dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus menjadi salah satu fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.












