SAMARINDA — Ketahanan pangan Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi perhatian di tengah perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berpotensi meningkatkan investasi, jumlah penduduk, dan kebutuhan pangan di kawasan tersebut.
Persoalan itu dibahas dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (UNMUL) bersama Pemuda Inspirasi Nusantara di Ruang Teater Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., Samarinda, Jumat (21/8).
Sejumlah pembicara menyoroti potensi sektor pertanian Kaltim, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, distribusi logistik, hingga pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan pertanian.
Produksi Jagung Meningkat
Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Lani Tanujaya, menyampaikan produksi jagung di Kaltim meningkat dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025.
Menurut Lani, peningkatan produksi tersebut perlu diikuti kepastian pasar agar memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Ia mencontohkan salah satu pabrik pengolahan di Samboja yang membutuhkan pasokan jagung sekitar 40–50 ton per hari. Kebutuhan tersebut, menurut dia, setara dengan hasil panen sekitar 300 hektare lahan setiap bulan.
“Prinsipnya sederhana: petani menanam, industri menyerap,” ujar Lani dalam keterangannya kepada media, Selasa (25/8/2026), di Samarinda.
Lani mengatakan, berdasarkan simulasi usaha tani, lahan jagung seluas satu hektare berpotensi menghasilkan laba bersih sekitar Rp10–15 juta per musim tanam. Sementara lahan seluas dua hektare berpotensi menghasilkan Rp20–30 juta per musim.
Menurut dia, peluang tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor usaha.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada komoditas beras. Lani menyebut Kaltim masih mengalami defisit sekitar 170.000 ton beras per tahun dan bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Ia juga menyoroti berkurangnya lahan sawah akibat alih fungsi lahan untuk kegiatan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, kata dia, juga masih terjadi pada sektor peternakan.
“Pertanyaannya, apakah Kaltim hanya akan menjadi penonton, atau mampu menjadi pemasok utama kebutuhan pangan IKN?” kata Lani.
Ketahanan Pangan dan Distribusi
Guru Besar Fakultas Pertanian UNMUL, Prof. Dr. Bernatal Saragih, S.P., M.Si., mengatakan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga akses, pemanfaatan, dan stabilitas.
Ia menyebut Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kaltim tergolong tinggi. Namun, menurutnya, masih terdapat disparitas antarwilayah, antara lain akibat biaya logistik dan kondisi geografis sejumlah wilayah pedalaman.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bernatal mengusulkan pembangunan lima hub logistik regional yang mengintegrasikan jalur sungai, jalan nasional, pelabuhan, dan bandara.
Menurut dia, penguatan konektivitas diperlukan untuk memperlancar distribusi dan memperluas akses pasar pangan di Kaltim.
“IKN bisa menjadi katalisator, tapi juga bisa menjadi beban tambahan, tergantung apakah produksi dan distribusi lokal kita diperkuat atau tidak,” kata Bernatal.
Kearifan Lokal dan Perubahan Penggunaan Lahan
Tokoh adat Kaltim, Hendrik Tandoh, menyoroti perubahan pola kehidupan masyarakat adat dan pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap ketahanan pangan.
Ia mengatakan masyarakat adat di pedalaman pada masa lalu memiliki pola pertanian yang memungkinkan pemenuhan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri. Berbagai tanaman pangan, rempah-rempah, dan tanaman obat ditanam di sekitar permukiman.
“Semakin sering berpindah, semakin kuat pula ketahanan pangan mereka,” ujarnya.
Menurut Hendrik, kondisi tersebut mengalami perubahan seiring berkembangnya investasi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara yang turut memengaruhi ketersediaan lahan pertanian.
Ia juga menilai minat sebagian generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian masih perlu diperkuat.
Hendrik mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah untuk menanam kebutuhan pangan, seperti cabai dan serai.
Ia juga mengingatkan potensi kemarau panjang dan kebakaran lahan yang dapat mengganggu aktivitas pertanian, terutama di wilayah hulu.
Ketersediaan Pupuk
Perwakilan Pemuda Kaltim, Alfonsius Limba, mengatakan keberadaan industri pupuk di Kaltim menjadi salah satu modal dalam mendukung sektor pertanian.
“Kaltim sebenarnya punya industri pupuk yang beroperasi hingga saat ini, yaitu Pupuk Kaltim, bagian dari ekosistem Pupuk Indonesia. Ini modal besar yang perlu terus kita optimalkan bersama,” ujarnya.
Alfonsius mendorong mahasiswa Fakultas Pertanian ikut membantu petani memahami akses pupuk bersubsidi, termasuk proses pendaftaran e-RDKK hingga penebusan melalui aplikasi i-Pubers dan kanal distribusi resmi.
Ia juga mengaitkan ancaman El Nino dengan ketersediaan air bagi petani serta pentingnya penguatan program TNI Manunggal Air hingga tingkat desa.
Menurut Alfonsius, kapasitas produksi pupuk nasional berada di kisaran 14 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan pupuk subsidi tahunan sekitar 9,8 juta ton.
Ia menyebut realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai sekitar 6 juta ton. Sementara di Samarinda, stok pupuk bersubsidi disebut sekitar 1.900 ton, lebih tinggi dibandingkan alokasi tahunan yang mencapai 1.700 ton.
Berdasarkan kondisi tersebut, Alfonsius menilai kebutuhan pupuk petani hingga musim tanam September masih relatif aman.
Namun, ia menegaskan ketahanan pangan tidak dapat diselesaikan hanya dengan memastikan ketersediaan pupuk.
“Diperlukan gerakan kolaboratif antara kampus, mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan petani untuk menjawab berbagai persoalan di lapangan,” katanya.
Menurut Alfonsius, mahasiswa dapat berperan sebagai penghubung antara program pemerintah dan kebutuhan petani. Mereka juga dapat terlibat dalam pengawasan distribusi pupuk serta pengembangan inovasi di sektor pertanian.
Pemuda Diminta Berperan Aktif
Wakil Dekan III Fakultas Pertanian UNMUL, Ir. Suhardi, S.Pt., M.P., Ph.D., mengatakan ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam, teknologi, dan modal.
Menurut dia, diperlukan keterlibatan generasi muda dalam memperjuangkan kepentingan petani sekaligus mengembangkan sektor pertanian.
“Peran strategis pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton; pemuda harus menjadi pemain utama,” ujarnya.
Dalam seminar tersebut, para pembicara juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat, petani, dan media.
Lani menekankan sinergi enam pilar dengan Kadin Kaltim sebagai fasilitator dan mahasiswa sebagai penggerak inovasi. Sementara Bernatal mendorong pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat, dan media.
Para pembicara sepakat bahwa penguatan produksi pangan, distribusi, perlindungan lahan pertanian, akses pupuk, serta peningkatan peran generasi muda menjadi sejumlah faktor penting dalam memperkuat ketahanan pangan Kaltim di tengah perkembangan IKN.
Bernatal juga mendorong generasi muda tidak hanya berperan sebagai konsumen pangan, tetapi turut menjadi produsen, pengembang teknologi, dan pencipta nilai tambah di sektor pertanian.
Seminar tersebut ditutup dengan pesan untuk memperkuat peran Kaltim dalam memenuhi kebutuhan pangan di tengah pembangunan IKN: “Membangun Kalimantan, Menghidupi Nusantara.”
Penulis : Redaksi
Editor : Dwi Sandi












