Mengenal Tradisi Kawalu: Tiga Bulan Sakral Penyucian Diri Masyarakat Adat Baduy

Avatar photo

Minggu, 26 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

LEBAK — Masyarakat Adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, memiliki sistem penanggalan tradisional yang menjadi pedoman dalam menjalankan seluruh siklus kehidupan adat dan keagamaan. Salah satu periode paling sakral dalam kalender adat tersebut adalah Bulan Kawalu.

​Kawalu merupakan tiga bulan terakhir dalam satu siklus tahun adat yang terdiri atas:

  • ​Bulan Kasa (Kawalu Mitembeyan)
  • ​Bulan Karo (Kawalu Tengah)
  • ​Bulan Katiga (Kawalu Tutug)

​Selama Bulan Kawalu berlangsung, kawasan adat Baduy ditutup total untuk kunjungan wisatawan. Penutupan ini dilakukan agar masyarakat adat dapat menjalankan seluruh rangkaian kewajiban dalam Rukun Ajaran Slam Sunda secara khusyuk.

​Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Ngalanjakan, Kapundayan, Puasa Kawalu, Dibuat (panen), dan Ngalaksa. Seluruh ritual ini menjadi persiapan menjelang pelaksanaan Seba Baduy pada bulan berikutnya, yaitu Bulan Kapat (Bulan Sapar).

Tahapan Ritual: Dari Berburu hingga Puasa Adat

​Rangkaian Kawalu diawali dengan Ngalanjakan, yaitu tradisi berburu kijang, kancil, atau bajing, serta Kapundayan, yaitu kegiatan menangkap ikan di lubuk (leuwi) Sungai Ciujung.

Baca Juga :  Dugaan Siswa Titipan dalam PPDB MAN di Tangerang, LSM DOBRAK Minta Ombudsman Turun Tangan

​Kedua kegiatan tersebut dilaksanakan selama tujuh hari oleh perwakilan laki-laki dewasa dari setiap kampung adat pada setiap bulan Kawalu. Selain menjadi tradisi leluhur, kegiatan ini merupakan tahapan persiapan fisik dan spiritual sebelum memasuki pelaksanaan Puasa Kawalu.

​Setelah Ngalanjakan dan Kapundayan selesai, masyarakat melaksanakan Puasa Kawalu yang dilakukan selama satu hari pada setiap bulannya, dengan ketentuan waktu sebagai berikut:

  • ​Tanggal 18 Bulan Kasa (Kawalu Mitembeyan)
  • ​Tanggal 19 Bulan Karo (Kawalu Tengah)
  • ​Tanggal 18 Bulan Katiga (Kawalu Tutug)

​Puasa ini wajib dijalankan oleh seluruh warga Baduy dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai bentuk penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, serta ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Masa Panen dan Tradisi Ngalaksa

​Memasuki masa panen, masyarakat melaksanakan Tradisi Dibuat, yaitu prosesi memanen padi yang diawali dari Huma Serang (ladang padi bersama) dan dilanjutkan di ladang milik masing-masing keluarga. Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan mengikuti tingkat kematangan padi, dan dikerjakan secara gotong royong.

Baca Juga :  Upacara HUT RI Ke -81 Kabupaten Tangerang Berlangsung Khidmat, Bupati Maesyal Tekankan Semangat Pengabdian

​Setelah seluruh panen selesai, warga menggelar Ngalaksa, yaitu tradisi membuat laksa dari tepung beras hasil panen sendiri. Ritual ini merupakan simbol rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Puncak Ritual: Seba Baduy

​Pasca-Bulan Kawalu berakhir, masyarakat memasuki Bulan Kapat untuk melaksanakan Seba Baduy selama tiga hari, yang umumnya dimulai dari tanggal 5 sampai tanggal 7 Bulan Kapat.

​Dalam tradisi ini, para laki-laki dewasa berjalan kaki puluhan kilometer menuju pusat pemerintahan daerah dengan membawa oleh-oleh hasil bumi. Mereka juga menyampaikan amanat warga adat kepada Bapak Gede (Kepala Daerah/Bupati/Gubernur) sebagai wujud ketaatan dan upaya mempererat hubungan antara masyarakat adat Baduy dengan pemerintah.

​Setelah prosesi Seba selesai, kawasan Baduy kembali dibuka bagi wisatawan melalui program Saba Budaya Baduy. Melalui tradisi Kawalu, masyarakat Baduy menegaskan bahwa keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta merupakan fondasi utama kehidupan yang harus terus dipelihara antar-generasi.

Berita Terkait

Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing Gratis di RSUD Balaraja, Pemkab Tangerang dan Kejagung Sediakan Layanan Kesehatan Inklusif
NGEMAS di Desa Pangkat, Bupati Tangerang Serap Aspirasi Penggiat Seni dan Budaya
Komisi VIII  DPR RI Puji Layanan Haji Pemkab Tangerang, Mulai dari Uang Saku Hingga Pengadaan Kantor Kemenhaj
Mathla’ul Anwar Jateng Punya Nakhoda Baru, Ketum PBMA Tekankan Lompatan Organisasi
UT Perkuat Riset STEM Lewat Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Laskar Benteng Viola Tangerang Rayakan HUT ke-73 Persita, Berharap Juara Liga 1 2026/2027
Kemenag Tangerang Gagas Beasiswa Madrasah Gemilang, Cetak Guru Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045
Zakat Melalui Lembaga Resmi, Ikhtiar Memperluas Manfaat dan Meningkatkan Kesejahteraan Umat
Penulis: Ki Yanie ​Kategori: Adat & Budaya / Humaniora ​Lokasi: Kabupaten Lebak, Banten

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 15:12 WIB

Bakti Sosial Operasi Bibir Sumbing Gratis di RSUD Balaraja, Pemkab Tangerang dan Kejagung Sediakan Layanan Kesehatan Inklusif

Jumat, 18 September 2026 - 13:07 WIB

NGEMAS di Desa Pangkat, Bupati Tangerang Serap Aspirasi Penggiat Seni dan Budaya

Senin, 14 September 2026 - 13:37 WIB

Mathla’ul Anwar Jateng Punya Nakhoda Baru, Ketum PBMA Tekankan Lompatan Organisasi

Sabtu, 12 September 2026 - 13:12 WIB

UT Perkuat Riset STEM Lewat Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Rabu, 9 September 2026 - 19:36 WIB

Laskar Benteng Viola Tangerang Rayakan HUT ke-73 Persita, Berharap Juara Liga 1 2026/2027

Berita Terbaru